Bijak

Jangan menilai buku dari sampulnya

Mungkin anda semua sudah sangat sering mendengar pepatah diatas. Pepatah yang memberi arti bahwa kita jangan hanya menilai seseorang dari fisiknya saja atau hanya dari penampilannya saja. Memang, penampilan manusia tak jarang sangat menipu bagi kita. Seringkali seseorang dengan penampilan yang kurang meyakinkan namun justru memiliki keampuan yang di luar dugaan kita. Bahkan tak jarang pula seseorang dengan penampilan yang begitu mengesankan malah membuat kita kecewa dan sakit hati.

Hal diatas pulalah yang membuat saya tergelitik untuk menulis kiriman ini. Selama 27 tahun hidup saya, saya telah mengenal puluhan, ratusan atau bahkan ribuan orang. Semuanya pasti memiliki penilaian sendiri di kepala saya. Silih berganti mereka mengisi kehidupan saya. Mulai dari orang tua, saudara, kerabat, teman bahkan orang-orang yang (maaf) sedikit agak berseberangan pendapat dengan saya secara langsung ataupun tidak, sadar atau tidak otak saya akan menilai kepribadian mereka berdasarkan stimulus yang saya terima sehingga otak saya bisa memiliki persepsi sendiri-sendiri terhadap mereka. Namun tak jarang pula ternyata otak saya salah mempersepsikan stimulus yang ada, karena stimulus yang saya terima hanya berupa gambaran penglihatan mata yang sekilas tadi. More >

Pay It Forward

Saat terlintas keraguan apakah mungkin perbuatan baik yang kecil dan
sederhana yang kita lakukan kepada orang lain akan
mampu mempengaruhi kehidupan mereka, mungkin Film “PAY IT FORWARD” bisa
menjadi pendorong
yang memberikan kita semangat untuk selalu tidak jemu-jemu berbuat baik
kepada orang lain.

Kisahnya bercerita tentang seorang anak umur delapan tahun bernama Trevor
yang berpikir jika dia melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya,
lalu jika ke tiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu
dengan melakukan kepada tiga orang lainnya dan begitu seterusnya, maka dia
yakin bahwa suatu saat nanti dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang
saling mengasihi. Dia menamakan ide tersebut: “PAY IT FORWARD”

Singkat cerita, Trevor memutuskan bahwa tiga orang yang akan menjadi bahan
eksperimen adalah mamanya sendiri (yang menjadi single parent), seorang
pemuda gembel yang selalu dilihatnya dipinggir jalan dan seorang teman
sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal.
More >

Dua Pemancing Yang Hebat

Diceritakan tentang sebuah kejadian yang dialami dua orang pemancing yang sama-sama hebat, berinisial A dan B. Kedua pemancing itu selalu mendapatkan banyak ikan. Pernah kedua pemancing tersebut didatangi oleh 10 pemancing lain ketika memancing di sebuah danau. Seperti biasa, kedua pemancing itu mendapatkan cukup banyak ikan. Sedangkan 10 pemancing lainnya hanya bisa gigit jari, karena tak satupun ikan menghampiri kail mereka.

Ke sepuluh pemancing amatir itu ingin sekali belajar cara memancing kepada kedua pemancing hebat tersebut. Tetapi keinginan mereka tidak direspon oleh pemancing berinisial A. Sebaliknya, pemancing berinisial A tersebut menunjukkan sikap kurang senang dan terganggu oleh kehadiran pemancing-pemancing amatir itu.

 

Tetapi pemancing berinisial B menunjukkan sikap yang berbeda. Ia bersedia menjelaskan tehnik memancing yang baik kepada ke-10 pemancing lainnya, dengan syarat masing-masing diantara mereka harus memberikan seekor ikan kepada B sebagai bonus jika masing-masing diantara mereka mendapatkan 10 ekor ikan. Tetapi jika jumlah ikan tangkapan masing-masing diantara mereka kurang dari 10, maka mereka tidak perlu memberikan apapun.

More >

Saat Marah, Kenapa Harus Berteriak?

pd_arguing_080129_ms.jpg

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya;
“Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;
“Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.”
“Tapi…” sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.
Sang guru lalu berkata; “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harusberteriak.
Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”

More >

Berapa Gaji Papa ?

Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di
Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya,
Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD yang membukakan
pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya Imron
memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan
berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang
keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya
berapa sih gaji Papa?”

“Lho, tumben, kok nanya gaji Papa? Mau min! ta uang lagi, ya? ” “Ah,
enggak. Pengen tahu aja.”
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam
dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari
kerja. Sabtu dan minggu libur, kadang sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji
Papa dalam satu bulan berapa, hayo?”
More >